Legenda ‘Journey to the West’ (Kera Sakti) yang Terkenal di Tiongkok
Legenda yang satu ini mungkin sudah tidak asing bukan hanya di negara Tiongkok, tapi juga di seluruh dunia—termasuk Indonesia. Beberapa Milenial mungkin lebih mengenalnya atau mengenalnya atau mengingatnya dengan nama 'Kera Sakti', karena beberapa tahun yang lalu kisah ini pernah muncul di salah satu stasiun TV dan kerap diulang kembali.
Salah satu karakter utamanya, Sun Go Kong, tentunya sudah melekat di kepala kita dan memiliki spot yang spesial di hati serta memori kita, bukan? Selain Sun Go Kong, karakter lainnya yang memiliki peran penting di serial ini adalah Biksu Tong yang selalu menemani Sun Go Kong berjelajah ke Barat mencari kitab suci. Namun, yang menjadi salah satu pertanyaan adalah, apakah tokoh ini memang benar pernah tinggal di Tiongkok?
Berdasarkan beberapa sumber literatur yang ada, Tang Xuanzang adalah biksu yang ditasbihkan saat beliau berusia 13 tahun dan hidup di Tiongkok sekitar tahun 602-664. Tang Xuanzang tercatat sebagai biksu dan peziarah yang terbesar sepanjang sejarah dan hidup pada masa Dinasti Tang di Tiongkok.
Perjalanan Tang Xuanzang ke India
Setelah beliau menjadi seorang biksu, Tang Xuanzang masih belum merasa puas dengan penjelasan serta ilmu yang ia dapatkan dari guru-guru pendahulunya. Untuk memuaskan rasa keingintahuannya akan ilmu agama Buddha, ia pun memutuskan untuk pergi ke India, tempat lahirnya agama tersebut.
Beberapa tahun setelah itu, Tang Xuanzang mendapatkan mimpi yang membuatnya semakin yakin untuk melakukan perjalanan ke barat. Ia merencanakan perjalanannya dengan baik karena ia harus pergi secara diam-diam dan tidak ketahuan oleh kaisar.
Di sepanjang perjalanannya yang melalui Jalur Sutera, negara-negara yang berada di sekitar sana menginginkan Tang Xuanzang untuk menetap di negara mereka. Namun, memang Tang Xuanzang memiliki tekad yang besar dan bulat, ia tidak tergoda dengan berbagai macam tawaran itu, dan melanjutkan perjalanannya. Ceritabaru
Saat Tang Xuanzang tiba di Turfan, beliau bertemu dengan raja yang menganut agama Buddha. Raja tersebut memberikan Tang Xuanzang sebuah surat pengantar dan memerintahkan empat biksu dan 25 orang lainnya untuk menemani Tang Xuanzang mencapai tujannya.
Perjalanan Tang Xuanzang memang dipenuhi berbagai macam rintangan, salah satu tragedi yang menimpanya adalah saat ia dan kelompoknya melewati Gunung Ling yang penuh dengan es.
Satu per tiga kelompoknya pun gugur dalam perjalanan karena jatuh tergelincir ke jurang, tertimpa bongkahan es yang berukuran sangat besar, atau bahkan membeku karena suhu yang luar biasa dingin! Hebatnya, tekad Tang Xuanzang tetap tidak tergoyahkan. Beliau meneruskan perjalanannya dan akhirnya mencapai India di sekitar tahun 630.
Perjuangan dan hambatan yang harus Tang Xuanzang lalui tidak berhenti saat beliau sudah berhasil menapakkan kaki di India. Sesampainya di India, Tang Xuanzang dan kelompoknya ditangkap oleh segerombolan bandit. Barang-barang yang mereka bawa hingga pakaian mereka diambil, lalu mereka pun dilempar ke dalam sebuah kubangan lumpur untuk dibunuh.
Bagian yang agak lucu dari penculikan ini adalah, saat Tang Xuanzang dan rombongannya sedang berusaha menyelamatkan diri, para bandit itu malah saling bertengkar karena mereka berebutan hasil rempasan.
Tang Xuanzang dan kawan-kawannya pun berhasil melarikan diri dengan merangkak ke dalam kolam lumpur yang ada di dekat mereka. Ternyata, lubang yang mereka lalui mengarah ke sebuah desa. Mereka pun meminta bantuan warga sekitar untuk mengusir dan melawan para bandit.
Saat segala urusannya dengan para bandit terselesaikan, Tang Xuanzang melanjutkan perjalanannya. Ia singgah di beberapa daerah dan kota di mana ia menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk belajar, mendatangi situs-situs Buddha, dan bertemu biksu-biksu lokal untuk mempelajari hal baru. Di sekitar tahun 635, beliau pun mencapai tempat tujuan utamanya, Biara Nalanda atau yang dikenal dengan nama Universitas Nalanda.
blog-images
Sumber foto: Unsplash
Tempat ini adalah kuil terbesar yang ada di India dan merupakan sebuah tempat berkumpul murid-murid terbaik yang ingin mendalami ilmu agama Buddha. Tang Xuanzang juga ikut menghabiskan beberaapa tahunnya di sini untuk belajar langsung dari pemikir dan guru besar yang dihormati di masa itu, salah satunya adalah Silabhadra.
Pencapaian Tang Xuanzang yang paling besar saat ia berada di Nalanda adalah ia berhasil menghafal 50 naskah suci Buddha—yang harus kalian tahu, pada saat itu, hal ini hanya berhasil dilakukan oleh sembilan orang. Karena pencapaiannya yang luar biasa ini, Tang Xuanzang mendapatkan gelar San Zang ke-10.
Setelah menghabiskan lima tahun di Nalanda, Tang Xuanzang memutuskan untuk kembali ke Chang An. Beliau tiba kembali di Tiongkok pada tahun 644. Para penduduk dan pejabat menyambut kepulangannya dengan sangat meriah. Bahkan, sang Kaisar juga menawarkan posisi yang cukup penting di kerajaan untuk Tang Xuanzang, untuk menjadi penasihat kekaisaran.
Namun, ia dengan rendah hati menolaknya dan berjanji untuk menulis dan menceritakan kisah-kisah tentang negara yang telah ia datangi—tentang kondisi budaya, ekonomi, politik. Hal inilah yang menjadi titik awal lahirnya buku legendaris 'Journey to the West'.
Wah, perjalanan yang tentunya memakan waktu panjang dan tidak mudah, ya. Ada banyak sekali tantangan dan kesulitan yang Tang Xuanzang alami selama ia pergi menuntut ilmu. Dan, tentu saja, hasil kerja keras yang ia buat tidak menjadi sia-sia. Hingga sekarang, karyanya masih menjadi hal yang sangat dihormati orang-orang dan dianggap sebagai salah satu mahakarya. Kalian tentu saja ingin membuat suatu hal yang besar dan hebat sepertinya, kan?
Mulai dari hal-hal kecil dan langkah kecil dulu, yuk! Salah satunya dengan belajar bahasa Mandarin! Dengan belajar bahasa Mandarin, kalian bisa melihat dan mengetahui hal-hal baru untuk memperluas cakrawalamu. Belajar bahasa Mandarin bisa memperluas peluang masa depanmu juga, karena kini negara Tiongkok adalah salah satu negara dengan perkembangan ekonomi tercepat dan terpesat!
Kalian bisa memulai perjalanan pembelajaran bahasa Mandarin di LingoAce! LingoAce adalah platform e-learning Mandarin untuk anak usia 6 hingga 15 tahun. Di LingoAce, anak akan diajarkan langsung oleh native speaker dan belajar menggunakan kurikulum yang sudah terakreditasi secara global.
Kurikulumnya pun dibuat beragam agar bisa menyesuaikan dengan kemampuan anak yang berbeda-beda. Metode belajarnya pun dibuat dengan cara yang seru dan interaktif, sehingga anak tidak akan merasa bosan! Keampuhan LingoAce sudah dibuktikan oleh ribuan murid yang terbesar di lebih dari 80 negara di seluruh dunia!
Mau tahu lebih banyak tentang cara belajar Mandarin di LingoAce? Klik link ini untuk mengikuti kelas free trial LingoAce! Dari kelas free trial ini kalian bisa mendapatkan laporan tentang kemampuan bahasa kalian yang lengkap, serta kalian akan diberi tahu program belajar mana yang paling sesuai untuk membantu kalian!

Komentar
Posting Komentar